Kamis, 25 Juli 2013

belajar mengeja makna dalam kata Cinta

berbicara lebih jauh tentang pengertian kata secara sederhana kata adalah sekumpulan huruf yang mempunyai arti sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (1997) memberikan beberapa definisi mengenai kata:
  1. Elemen terkecil dalam sebuah bahasa yang diucapkan atau dituliskan dan merupakan realisasi kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa
  2. konversasi, bahasa
  3. Morfem atau kombinasi beberapa morfem yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas
  4. Unit bahasa yang dapat berdiri sendiri dan terdiri dari satu morfem (contoh kata) atau beberapa morfem gabungan (contoh perkataan)
kata tidak bisa terlepas dari makna. menurut wikipedia Makna adalah hubungan antara lambang bunyi dengan acuannya. (dilihat dari struktur makna.) Makna merupakan bentuk responsi dari stimulus yang diperoleh pemeran dalam komunikasi sesuai dengan asosiasi maupun hasil belajar yang dimiliki. Ujaran/perkataan manusia itu mengandung makna yang utuh. Keutuhan makna itu merupakan perpaduan dari empat aspek, yakni pengertian (sense), perasaan(feeling), nada (tone), dan amanat (intension). Memahami aspek itu dalam seluruh konteks adalah bagian dari usaha untuk memahami makna dalam komunikasi.
dan kini ketika usiaku menginjak angka 23++ kata cinta benar2 mengusikku...Cinta, cinta, dan cinta. satu kata yang memiliki misteri luar biasa. cinta hanya satu kata, tapi dia punya sihir yang luar biasa. hmmm...
makna yang terkandung dalam kata cinta begitu banyak namun satu yang pasti "cinta yang sejati akan membawa kedamaian". ketika aku kecil cinta q maknai
- sayang-sayangan
- pacaran
- seneng/suka sama orang
- naksir dengan teman cowok
just it. namun seiring berjalannya waktu makna cinta berkembang menjadi luas berbanding dengan pengalaman hidup yang ku lalui.
- cinta bukan sekedar sayang atau suka
- cinta bukan hanya melibatkan orang, tapi semua makhluk
- cinta yang sesungguhnya bersumber dari Dzat Sang Pemberi Cinta Allah SWT
- cinta yang berdasar nafsu tidak akan abadi, sedangkann cinta berdasarkan iman akan mengantarkan kita ke surga

Rabu, 03 Juli 2013

Resensi Buku Keakhwatan 3


Judul                     : Keakhwatan 3 (bersama tarbiyah mempersiapkan tegaknya rumah tangga Islami)
Penulis                 : Cahyadi takariawan dkk
Penerbit              : PT era Adicitra Intermedia
Tahun terbit       : Februari 2012 (edisi revisi cetakan pertama)
Tebal halaman   : xvi + 136 halaman , 21 cm
Resensator         : Nikmatul Istikhomah*

Berdasarkan pengalaman pribadi, ternyata isu yang berkembang di usia-usia 20 ++ tidak jauh-jauh dari yang namanya isu pernikahan. Dimana-mana pasti UUN, apapun tema pembicaraan “Ujung-Ujungnya ngomongin Nikah”. Pernah dapat tausiyah dari seorang ustadzah bahwa menikah itu bukan tergantung faktor usia tapi tergantung pada kesiapan. Menusuk banget. So selama ini bekal apa yang sudah kita persiapkan? Padahal ketika kita tengok lagi materi tentang Iqomattudin, menikah / berumah tangga hanyalah tangga/ tahapan kedua setelah perbaikan individu. Dan setelahnya masih ada 5 tahapan lagi menuju Ustadziyatul alam. Jika tahap kedua saja tidak sempurna bagaimana akan melalui tahapan berikutnya ?...ho..ho…. jadi mau ndak mau, tabu ndak tabu yang namanya pernikahan musti disiapkan sejak dini. Diantaranya dengan baca buku ini...J..OK karena buku ini membahas sesuatu yang masuk katagori “sakral ” oleh resensator

Resensi Buku Grapho Parenting


Judul             : Grapho Parenting Membangun Karakter Melalui Pengenalan Tulisan Anak
Penulis          : Ruli Renata (suami dari teman kamarku lho.he..he… J  mbak lilik puji Rahayu)
Penerbit        : Aksi Cepat Tanggap dan Samudra Publishing
Tahun terbit   : Maret 2013 (cetakan pertama)
Tebal halaman : xviii+ 105 halaman , 15 cm
Resensator    : Nikmatul Istikhomah*

  Tema karakter saat ini menjadi salah satu pembicaraan sentral di dunia pendidikan, khususnya pendidikan karakter. Bahkan saking hebohnya kurikulum pendidikan yang saat ini dicanangkan pemerintah melalui kementerian pendidikanditahun 2013 menjadikan Pendidikan Karakter sebagai kurikulum yang harus digunakan disemua jenjang pendidikan. Tema karakter sejatinya menjadi tema sentral pembentukan kepribadian anak sejak masa dahulu. Pembentukan karakter melalui tulisan tangan atau yang dikenal sebagai “graphology” dalam buku ini menawarkan suatu jenis pendidikan yang relative sederhana namun sangat efektif dalam mengembangkan maupun mengubah karakter.
Buku ini termasuk versi ringkas untuk pemula. Sangat tipis untuk sesutu yang renyah disantap. Kecil dan tipis bukan berarti remeh. Di balik kesahajaan buku ini, tersimpan energy perubahan. Ia menginspirasi, terlebih ketika menjadi “sekedar” bacaan penopang pelaksanaan pelatihan graphology.

Sabtu, 29 Juni 2013

renungan : doa dalam surat cinta dari Sang Pemilik Segala Cinta


membuka folder2 lama..subhanallah ternyata ada mutiara yang terpendam dalam kotak tulisan..yang membahas tentang surat cinta dari Dia. surat cinta yang tiada seorang pun bisa menandinginya. surat cinta yang selalu mengobati segala luka. surat cinta yang membawa kedamaian tanpa kekurangan 1 pun. ya surat cinta yang dibawa oleh sang pencerah

Kamis, 27 Juni 2013

Idealisme Mahasiswa yang mulai memudar


Berbicara tentang mahasiswa maka yang terbayang adalah sosok pemuda yang identik dengan manusia intelektual, pembelajar, idealisme, semangat, kritis terhadap permasalahan, kegairahan dan lain sebagainya. Itu gambaran saya, gambaran yang saya tanam diotak ketika masih SMA dan bertransformasi di dunia kampus.Namun ketika saat ini menengok kondisi kampus, khususnya kampus yang membesarkan saya Univesitas Negeri Malang, fakta dilapangan tidak seideal sebagaimana yang saya bayangkan. Benar-benar telah terjadi pergeseran kultur yang luar biasa. Mahasiswa kritis dengan idealism menggebu2, khususnya mereka yang peduli dan  mengkritisi kebijakan kampus dan pemerintah sudah agak jarang saya temui. Yang ada adalah mahasiswa dengan kultur yang mengejar IPK tinggi, segera lulus dan segera kerja.
Memang benar keberadaan kampus /perguruan tinggi tak lain dan tak bukan memiliki 3 fungsi utama, pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Sebagai mahasiswa yang menjadi bagian penting dan ujung tombak PT, tentunya harus bisa menyeimbangkan ketiga fungsi tersebut tanpa mengesampingkan beberapa penting mahasiswa.

Rabu, 26 Juni 2013

EKSTRAKSI SAMBILOTO SEBAGAI OBAT PENYAKIT BRONKITIS

RINGKASAN
Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan sumberdaya alam.  Begitu pula dengan keanekaragaman tanamannya. Banyak tanaman yang memiliki manfaat bagi pengobatan manusia, salah satunya adalah tanaman sambiloto. Tanaman sambiloto mudah ditemukan di Indonesia.
Penyakit yang sedang mewabah di masyarakat yakni penyakit bronkitis. Penyakit ini bisa diobati dengan ekstraksi sambiloto. Ekstraksi sambiloto merupakan obat herbal tradisional yang ramah lingkungan. Obat ini tidak memiliki efek samping, jika dikonsumsi dalam dosis yang tepat.    
Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah kajian pustaka dengan pendekatan penulisan deskriptif kuantitatif. Jenis data yang digunakan dalam penulisan ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari bahan-bahan pustaka yang relevan dengan topik yang ditulis, baik dari buku, makalah, hasil penelitian, ataupun internet.  Analisis data dalam penulisan ini adalah dengan cara bahan yang telah terkumpul kemudian diolah dan ditelaah. Lalu dianalisis dalam sebuah karya yang memfokuskan “Ekstraksi Sambiloto sebagai Alternatif Pengobatan Penyakit Bronkitis”.

Aku adalah Pemuda (oleh Nikmatul Istikhomah_coretan seleksi untuk seleksi FIM 11)


“Berikan Aku 10 Pemuda maka akan kuguncang dunia”- ir.Soekarno. saya awali tulisan ini dengan ungkapan presiden RI pertama tentang pemuda. Pemuda memiliki peran besar membangun peradaban bangsa. pemuda sebagai agent of change sudah selayaknya menjadi motor penggerak pembangunan untuk kemajuan bangsa. Pemuda merupakan generasi penerus bangsa, kader bangsa, kader masyarakat dan kader keluarga.
Sebagai kader bangsa, pemuda memiliki peran serta untuk berkontribusi memikirkan bangsa ini, ke depan mau dibawa kemana. Anggapan salah jika masalah negara hanyalah omongan mereka yang duduk manis di senayan atau para anggota dewan yang rajin rapat dengan menggunakan negara. Meskipun secara nyata pemuda “belum digaji” oleh negara, sudah menjadi kewajiban bagi setiap warga khususnya pemuda untuk ikut campur masalah negara. Kontribusi inilah yang dimaksud bung Karno dalam cuplikan kalimat pidato diatas.